Indonesian English
Items filtered by date: Jumat, 15 Maret 2019
15 Maret 2019 In Berita

Itjen Kemenristekdikti : PTNBH bukan untuk mengkomersialisasikan kampus

 

Padang (Unand) – Inspektur Jenderal (Itjen) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M. Hum menyampaikan bahwa Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) bukan untuk mengkomersialisasikan kampus, PTNBH bukan alat untuk meningkatkan SPP, PTNBH diharapkan perguruan tinggi mempunyai reputasi internasional.

Tidaklah tepat kalau memaknai PTNBH sebagai alat untuk menaikan SPP mahasiswa atau untuk mengkomersialisasikan kampus,” ujarnya saat memberikan kuliah umum Universitas Andalas menuju PTN BH pada Kamis (14/3) di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis Padang.

Dikatakannya Pemerintah malah memberikan target kepada 11 PTN BH yang ada di Indonesia harus masuk dalam 500 Perguruan Tinggi terbaik didunia.

Lebih lanjut ia menyebutkan sebelas PTN BH tersebut yaitu, Universitas Indonesia, Institute Teknologi Bandung, Institute Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin dan Universitas Sumatera Utara.

“Mari secara bersama-sama kita siapkan Universitas Andalas menjadi PTN BH, karena Perguruan Tinggi di Indonesia di design kearah itu,” ujarnya.

Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (BLU) dijelaskannya lebih kepada flesibility sedangkan PTN BH lebih kepada otonomi, otonomi pendidikan tinggi, otonomi perguruan tinggi tetapi tidak sekadar otonomi saja pemerintah mentargetkan PTN BH masuk kedalam 500 Perguruan Tinggi terbaik di dunia.

“Bukan hanya gengsi masuk PTN BH tetapi bagaimana kemudian bisa diwujubkan masuk kedalam Perguruan Tinggi terbaik didunia,” pungkasnya.

Disampaikannya persyaratan yang terkait menjadi PTNBH misalnya akreditasi institusi harus A tidak hanya institusi tetapi Prodi juga harus 70 % baik dari prodi S1-S3 diharapkan A,.

Kemudian Sumber Daya Manusia (SDM) Doktor (S3) minimal 51% dan Revenue Generating 100 milyar diluar PNBP. “Dalam kontek ini SPP mahasiswa bukan termasuk PNBP,” terangnya.

Dikatakannya persyaratan ini tidak gampang tetapi harus dilalui. “Kemudian ada beberapa keuntungan menjadi PTNBH diantaranya  kalau ingin membuka prodi  tidak perlu lagi izin ke Kementerian cukup dengan memberi tahu saja sedangkan kalau BLU banyak persyaratan yang dipenuhi,” ujarnya.

Mengenai  pendanaan ditambahkannya PTNBH bisa dari PNBP dan juga dari APBN (gaji, uang makan, serdos, serta bantuan pendanaan PTNBH.

“11 PTNBH memanfaatkan bantuan pendanaan bagi PTN BH, Perguruan Tinggi Satker dan Perguruan Tinggi BLU tidak mendapatkan bantuan ini,” ujarnya.

Selain itu,ditambahkannya diluar APBN yaitu dana masyarakat dalam konteks ini SPP mahasiswa. “Jadi tidaklah tepat bila PTNBH dimaknai upaya untuk mengkomersialisasikan kampus karena system SPP di Perguruan Tinggi mulai tahun 2013 diatur dengan namanya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terbagi pada kluster-kluster dari 1 hingga 7 bahkan 8,” ungkapnya. 

Mengenai UKT, disampaikannya masing-masing Perguruan Tinggi mengajukan ke Kementerian dan Kementerian memverifikasi agar tidak ada disparitas yang sangat jauh antar satu prodi dengan prodi lain.

Ia berharap kehadirannya di Universitas Andalas menjadi obat untuk segera diminum agar sembuh dari Perguruan Tinggi BLU menuju Perguruan Tinggi Berbadan Hukum. 

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA mengatakan Kemenristekdikti sudah menyiapkan Universitas Andalas untuk menjadi salah satu dari tiga Perguruan Tinggi agar menjadi PTN BH.

Disebutkannya adapun ketiga Perguruan Tinggi Negeri tersebut yakni Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dan Universitas Andalas.

“Dari ketiga PTN ini baru UNS yang saat ini menunggu SK sedangkan Brawijaya submit  proposal dan Universitas Andalas sendiri baru proses kepanitian,” ujarnya.

Ia meminta untuk bersama-sama menyatukan persepsi bagaimana secepatnya Universitas Andalas bisa menjadi PTN BH sekaligus meningkatkan prestasi baik dari segi akademik maupun non akademik.(*)

 

Humas

15 Maret 2019 In Berita

Raker Unand 2019 Dibuka Menristekdikti RI

 

Padang (Unand) – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Prof. H. Mohamad Nasir, Ak, Ph.D membuka secara resmi sekaligus memberikan arahan terkait Rapat Kerja (Raker) yang akan dilakukan Universitas Andalas dalam minggu ini.

Dalam sambutannya ia mengingatkan kepada seluruh stakeholder, para Guru Besar, Para Senat Akademik, Para Wakil Rektor, Para Dekan dan Pejabat yang ada di lingkungan Universitas Andalas saat ini kita sudah menghadapi era yang namanya Disruptive Innovation yaitu revolusi industri 4.0.

“Kalau kita menghadapi era revolusi industri 4.0, itu semua sudah terintegrasi berbasis dengan teknologi industri maka perkuliahan kedepan bagaimana kita kembangkan,” ujarnya pada Rabu (13/3) di Rumah Sakit Universitas Andalas.

Untuk itu, ia menginginkan adanya respon cepat dan tepat dari pemangku kepentingan di Universitas Andalas agar nantinya mampu meningkatkan daya saing di tengah-tengah persaingan global.

Dalam era ini, ia menekankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau Distant Learning yang dilakukan secara online sehingga dapat menjangkau banyak mahasiswa untuk berkuliah.

Kebijakan dari kemenristekdikti mengenai pembelajaran 4.0 blended dan online learning adalah one professor one thousand student artinya satu dosen bisa seribu mahasiswa. “Kalau Universitas Andalas mahasiswa lebih kurang 30 ribu itu bearti cukup membutuhkan 30 orang dosen,” ungkapnya.

Dikatakanya mau tidak mau suka tidak suka harus menuju e-learning dan prodi harus mampu menjawab tantangan. 

Mengenai publikasi disampaikannya publikasi ilmiah indonesia pertumbuhannya jauh lebih cepat 15 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan publikasi dunia. “Islamic World Science Citation Center (ISC) mencatatkan pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia yang tinggi yakni sebesar 1.567% dalam jangka waktu 17 tahun,” tuturnya. 

Ia bersyukur atas prestasi yang di raih Indonesia dalam hal publikasi ilmiah dan mengingatkan bahwa indikator jumlah publikasi secara kuantitas ini belum cukup untuk menjamin perkembangan ilmu pengetahuan di sebuah Negara. 

Menurutnya, masih banyak faktor lain dari publikasi ilmiah yang harus diperhatikan seperti scientific impact, sitasi, scientific diplomacy, economic impact, inovasi dan technological impact.

Maka dari itu, ia mengingatkan kalau Raker Universitas Andalas hanya bisnis ussual seperti tahun-tahun lalu, tinggalkan, lupakan. “Harus memunculkan inovasi-inovasi baru dari Universitas Andalas agar nantinya masuk kedalam Perguruan Tinggi kelas dunia,” harapnya.(*)

 

Humas