Indonesian English

FK Unand Sukses Menjadi Penyelenggara INA Time 2020 pada Masa Pandemi Covid-19

29 Agustus 2020

INA TIME 01

Padang (Unand) – Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ditunjuk sebagai penyelenggara INA TIME 2020 (Indonesia Tuberkulosis Internasional Meeting) membahas penyakit Tuberkulasis (TBC) yang diselenggarakan secara virtual conference selama dua hari (28-29/8)

Ketua Panitia INA TIME 2020 Dr. dr. Finny Fitri Yani, SpA menyampaikan INA TIME  merupakan kegiatan konfrensi yang khusus membahas masalah penyakit tuberkulosis bagi para praktisi dan akademisi baik staf kesehatan diberbagai tingkatan dan pengelola program penanggulangan TBC di Indonesia. Ini merupakan kegiatan tahunan yang sebelumnya berlangsung di Solo, Makassar, Surabaya dan tahun ini Universitas Andalas menjadi tuan rumah INA TIME 2020 yang berlangsung secara virtual dikarenakan adanya pandemi covid 19.

Acara ini diikuti 1.000 lebih peserta yang telah terdaftar dengan menghadirkan pembicara praktisi dan akademisi dari berbagai Negara seperti Jepang, Afrika Selatan, California, Belanda, Taiwan, New Zealand dan Singapore. “Sedangkan pembicara nasional berasal dari berbagai universitas dan juga dari Kemenkes Republik Indonesia,” ungkap Finny. Disamping itu, ia menyampaikan panitia juga telah menerima 104 asbtrak presentasi penelitian TBC, 18 inovasi TBC, 14 video edukasi TBC yang dilombakan.

Rektor Universitas Andalas Prof. Dr. Yuliandri, SH, MH mengatakan pertemuan ilmiah seperti ini sangat penting bagi para akademisi dan praktisi untuk tetap menghidupkan suasana ilmiah dan saling berbagi pengetahuan. Universitas Andalas juga memiliki Pusat Studi Tuberkulosis dan HIV yang akan terus dikembangkan kedepan. Rektor berharap melalui kegiatan INA TIME ini dapat membuka wawasan yang lebih baik dan menjadi ajang untuk mempertemukan pihak-pihak yang terlibat dalam penanggulangan TB baik dari Provinsi Sumatra Barat maupun wilayah Indonesia lainnya, serta dari luar negeri dengan Kemenkes RI, WHO, dan NGO TB untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.

“Manfaatkanlah jejaring dengan para pembicara dari luar negeri dan dalam negeri yang expert dibidang TBC untuk merumuskan topik-topik riset selanjutnya,” ujar Rektor.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Barat Prof. Irwan Prayitno, Psi mengungkapkan selama pandemi covid data pencapaian kasus TBC mengalami penurunan diseluruh Indonesia termasuk Sumatra Barat. Gubernur mengharapkan untuk tetap fokus TBC diantaranya data-data yang harus dilengkapi tentang penderitanya, memang target 65% yang harus dicapai namun yang tercapai baru sekitar 29%.  Lebih lanjut, Gubernur menambahkan penanggulangan TBC ini butuh keterlibatan semua pihak karena penyakitnya ini tidak hanya masalah medis namun juga masalah ekonomi, sosial dan budaya.

"Pihak-pihak yang terlibat untuk saling menguatkan, memberi dukungan dan saling berbagi pengalaman,” ujar Gubernur.

Sementara itu, Kemenkes RI yang diwakili oleh Irjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Achmad Yurianto sekaligus membuka acara secara resmi. Terkait percepatan penanganan TBC di Indonesia, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia masih berada pada peringkat ketiga kasus TBC tertinggi di dunia setelah India dan China. TBC menjadi salah satu dari sepuluh penyakit menular yang menyebabkan kematian terbanyak di dunia lebih besar dari HIV AIDS setiap tahunnya. Berdasarkan data tahun 2018 sebanyak 98.000 orang meninggal akibat TBC, perlu diketahui dan diwaspadai bersama 75% pasien TBC kelompok usia produktif yaitu berumur  15-55 tahun.

Sehubungan dengan hal tersebut pemerintah memiliki target pengurangan beban kasus TBC pada tahun 2030 menuju bebas TBC. Yuri menyampaikan adapun Program TBC yang harus dilakukan diantaranya melakukan pelacakan secara agresif untuk menemukan kasus, perlu berhati-hati mengingat sebanyak 845.000 penduduk penderita TBC yang ternotifikasi baru 562.000 sehingga yang belum terlaporkan lebih kurang 33%. Lalu, layanan diagnostik penyakit TBC tetap berlangsung meskipun dalam kondisi pandemi covid, pasien TBC harus diobati sampai sembuh sesuai prinsip TBC temukan, obati dan sembuhkan harus betul-betul dilaksanakan.

“Upaya pencegahan preventif dan promotif harus melibatkan semua lintas sektor pemerintahan disemua tingkat administrasi,” ujar Yuri.

Ia menekankan perlu adanya keterkaitan antara jajaran peneliti dan pengelola  program pengendalian TBC agar  kebutuhan program benar disikapi dengan upaya penelitian dan pengembangan. 

 

NEW LOGO 2020 ORI BLACK 

Read 70 times