Indonesian English

Raker Unand 2019 Dibuka Menristekdikti RI

Raker Unand 2019 Dibuka Menristekdikti RI

 

Padang (Unand) – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Prof. H. Mohamad Nasir, Ak, Ph.D membuka secara resmi sekaligus memberikan arahan terkait Rapat Kerja (Raker) yang akan dilakukan Universitas Andalas dalam minggu ini.

Dalam sambutannya ia mengingatkan kepada seluruh stakeholder, para Guru Besar, Para Senat Akademik, Para Wakil Rektor, Para Dekan dan Pejabat yang ada di lingkungan Universitas Andalas saat ini kita sudah menghadapi era yang namanya Disruptive Innovation yaitu revolusi industri 4.0.

“Kalau kita menghadapi era revolusi industri 4.0, itu semua sudah terintegrasi berbasis dengan teknologi industri maka perkuliahan kedepan bagaimana kita kembangkan,” ujarnya pada Rabu (13/3) di Rumah Sakit Universitas Andalas.

Untuk itu, ia menginginkan adanya respon cepat dan tepat dari pemangku kepentingan di Universitas Andalas agar nantinya mampu meningkatkan daya saing di tengah-tengah persaingan global.

Dalam era ini, ia menekankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau Distant Learning yang dilakukan secara online sehingga dapat menjangkau banyak mahasiswa untuk berkuliah.

Kebijakan dari kemenristekdikti mengenai pembelajaran 4.0 blended dan online learning adalah one professor one thousand student artinya satu dosen bisa seribu mahasiswa. “Kalau Universitas Andalas mahasiswa lebih kurang 30 ribu itu bearti cukup membutuhkan 30 orang dosen,” ungkapnya.

Dikatakanya mau tidak mau suka tidak suka harus menuju e-learning dan prodi harus mampu menjawab tantangan. 

Mengenai publikasi disampaikannya publikasi ilmiah indonesia pertumbuhannya jauh lebih cepat 15 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan publikasi dunia. “Islamic World Science Citation Center (ISC) mencatatkan pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia yang tinggi yakni sebesar 1.567% dalam jangka waktu 17 tahun,” tuturnya. 

Ia bersyukur atas prestasi yang di raih Indonesia dalam hal publikasi ilmiah dan mengingatkan bahwa indikator jumlah publikasi secara kuantitas ini belum cukup untuk menjamin perkembangan ilmu pengetahuan di sebuah Negara. 

Menurutnya, masih banyak faktor lain dari publikasi ilmiah yang harus diperhatikan seperti scientific impact, sitasi, scientific diplomacy, economic impact, inovasi dan technological impact.

Maka dari itu, ia mengingatkan kalau Raker Universitas Andalas hanya bisnis ussual seperti tahun-tahun lalu, tinggalkan, lupakan. “Harus memunculkan inovasi-inovasi baru dari Universitas Andalas agar nantinya masuk kedalam Perguruan Tinggi kelas dunia,” harapnya.(*)

 

Humas

Read 71 times